Perjuangan Kiai Kampung di tengah Maraknya Ustadz Seleb !!!
Nun jauh di kampung-kampung sana, banyak sekali kiai-kiai NU yang dengan
sepenuh hatinya mengabdikan diri untuk masyarakat. Mereka ini adalah para Ulama
sejati yang luas ilmunya, bijak, namun tetap hidup dengan sangat sederhana,
tidak ambisius terhadap duniawi.
Di antara para kiai yang pernah menjadi guruku dulu, Kiai Farid tergolong
cukup unik cara mengajarnya. Tidak seperti kiai-kiai lain yang biasanya
mengajar setiap pagi habis salat subuh, sore atau petang, Kiai Farid (kini
almarhum) memilih dini hari sebelum salat subuh sebagai waktu mengajar.
Saya mengaji dengan beliau dulu di Pekalongan setiap dini hari. Sekitar jam
3 pagi baru dimulai mengaji. Santri yang ikut mengaji di “sesi” ini hanya
segelintir saja, termasuk anaknya sendiri. Kitab yang dibahas adalah
kitab-kitab nahwu atau tata bahasa Arab, khususnya Kitab Alfiyah Ibnu ‘Aqil
yang tergolong rumit.
Meskipun di pagi buta dan masih setengah mengantuk, Kiai Farid yang konon
alumnus Pesantren Gontor, Tebuireng dan Denanyar ini mampu membuat suasana
menjadi semangat karena suaranya yang keras dan menggelegar kalau mengaji,
menerangkan dan membaca kitab.
Maklum, selain guru dan kiai, beliau juga seorang dai yang cukup populer di
daerah Pekalongan dan sekitarnya. Jam terbang ceramahnya cukup padat yang
membuat saya terkadang cukup kasihan dengan beliau. Betapa tidak, karena sibuk
mengisi pengajian, beliau sering pulang rumah larut malam. Sudah begitu harus
mengajar jam 3-an lagi. Saya sering membayangkan: jam berapa atau berapa jam
Kiai Farid tidur?
Selain penceramah, Kiai Farid juga “khotib idolaku”. Saya suka sekali kalau
beliau menjadi khotib salat Jumat. Khotbahnya singkat dan padat dan berapi-api
seperti Bung Karno. Ia selalu menulis sendiri khotbah-khotbahnya. Kata
pengantar khotbahnya juga cukup khas dan unik, beda dengan para “khotib
konvensional”. Isi khotbahnya biasanya tentang pesan-pesan moral-kemanusiaan.
Saya pernah tanya ke beliau: “Kiai, kenapa khotbah-khotbah Anda sangat
singkat?” Jawab beliau: “Khotbah itu memang harus singkat, salat Jumatnya yang
mestinya agak lama”.
Bukan hanya suara dan dedikasinya saja yang membuat saya terpikat dengan
beliau, tapi juga kesahajaannya. Beliau orang yang sangat sederhana. Rumahnya
kecil-mungil tak berkeramik, bertembok lusuh dan berhimpitan dengan mushala dan
tempat mengaji.
Kendaraan sehari-harinya memang “BMW” tapi bukan sedan melainkan sepeda
motor “Bebek Merah Warnanya” yang bunyinya sangat khas etek etek etek he he.
Hal lain yang membuatku kagum dengan beliau adalah kesuksesannya dalam
mendidik anak-anaknya. Anak-anaknya sangat cerdas dan “berotak Habibie” yang
dua di antaranya sekolah di Jepang, kalau nggak salah studi di bidang nuklir
dan pesawat terbang. Nilai ujian SMA anak-anaknya nyaris sempurna, dan karena itu
mendapat penawaran beasiswa dari berbagai kampus top di Indonesia, meskipun
akhirnya mereka memilih Jepang sebagai tempat untuk belajar.
Mungkin saja Kiai Farid membiarkan dirinya hidup sederhana yang penting
anak-anaknya sukses dalam berkarir dan menuntut ilmu.
Kiai Farid adalah contoh kecil dari beribu-ribu “kiai kampung” yang tersebar
di berbagai daerah di Indonesia: sosok kiai yang sangat dalam ilmu dan wawasan
keislamannya tetapi tulus-ikhlas pengabdiannya serta lebih memilih hidup
bersahaja ketimbang menjadi “budak harta”.
Sosok Kiai Farid ini sangat kontras dengan sejumlah “dai seleb” masa kini
yang ilmu dan wawasan keislamannya pas-pasan bahkan ada yang nyaris tak ada
ilmunya tetapi menjadi populer di tipi-tipi dan kaya raya hanya karena kelucuannya,
kenyentrikannya, keartisannya, kekonyolannya, kerasisannya, kegalakannya, dan
seterusnya.
Herannya, banyak orang yang mengikuti bualan-bualan mereka dan bahkan
menyebut mereka dengan sebutan “ulama”. Sementara yang kiai dan ulama beneran
malah dikafir-sesatkan, dibodoh-bodohkan, di-PKI-kan dan seterusnya.
Sumber : http://www.santrionline.net

Tidak ada komentar